Setjen Wantanas Lakukan Pengkajian Daerah di Wonosobo

Setjen Wantanas Lakukan Pengkajian Daerah di Wonosobo,  - Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (Setjen Wantanas) Republik Indonesia lakukan pengkajian daerah di Wonosobo, Rabu, 29 Agustus 2018, di Ruang Kertonegoro Setda. 


Menurut penanggung jawab Tim Pengkajian Daerah Setjen Wantannas, Any Hindriatny, yang juga menjabat pembantu Deputi Urusan Hukum dan Perundang-undangan Setjen Wantannas, menyampaikan bahwa pihaknya sengaja melaksanakan pengkajian daerah ke Provinsi DIY dan Provinsi Jawa Tengah dari tanggal 27 sampai 30 Agustus, dengan kegiatan kunjungan kerja di Kabupaten Bantul, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Wonosobo. Kunjungan kerja dimaksudkan untuk mendapatkan informasi aktual terkait dengan ketahanan nasional di daerah, meliputi aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, budidaya rempah-rempah nusantara, lingkungan hidup, pertahanan keamanan dan hukum yang terkait dengan masalah rempah-rempah dan lingkungan hidup. Dalam kunjungan kerja ini, Tim Kajida terdiri dari Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Penegakkan Hukum Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas, Abdul Sofa, Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Hukum Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas, Hulman Napitupulu, serta Analis Kebijakan Bidang Pengembangan Mobilisasi dan Demobilisasi Kedeputian Pengembangan Setjen Wantannas, Kolonel.Lek.Yufie Syafari.

Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagiyo, menyampaikan bahwa Kabupaten Wonosobo, merupakan salah satu wilayah pegunungan di Jawa Tengah yang memiliki multi potensi khususnya di bidang pertanian, pariwisata, kehutanan dan perekonomian kerakyatan. Tiap wilayah di Kabupaten Wonosobo masing-masing memiliki produk unggulan khas dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sumber peningkatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
Hal ini didukung oleh pembangunan iklim investasi yang semakin kondusif, termasuk di dalamnya kondisi sosial budaya, kepastian hukum, kemudahan perijinan, dan tersedianya tenaga kerja yang memadai. Sementara Kepala BAPPEDA Kabupaten Wonosobo, Amin Suradi, menyampaikan bahwa tanaman rempah merupakan tanaman sampingan yang bisa dijadikan investasi untuk masa depan, karena jika dipelihara dengan baik produk ini mempunyai umur produktifitas yang panjang, sehingga bisa menjadi jaminan hari tua bagi petani dan keluarganya.

Adapun untuk beberapa komoditas tanaman rempah di Wonosobo antara lain cengkeh dengan luas lahan 185,91 HA dan produktivitas 180.401 kg per hektar, kapulogo dengan luas lahan 895,16 HA dan produktivitas 3251,083 kg per hektar, lada dengan luas lahan 48,94 HA dan produktivitas 928,688 kg per hektar, pala dengan luas lahan 28 HA dan produktivitas 55 kg per hektar, kemukus dengan luas lahan 30,31 HA dan produktivitas 2.289,34 kg per hektar, temulawak dengan luas lahan 450 HA dan produktivitas 0,622 kg per hektar serta jahe dengan luas lahan 896,74 HA dan produktivitas 1433 kg per hektar.

Ditambahkan Amin, untuk menjamin kelestarian dan keterlanjutan sumber daya alam agar tetap lestari dan berdaya guna sepanjang masa, maka perlu penerapan pola budidaya yang sesuai kaedah konservasi yang mengarah pada budidaya perkebunan, yang berorientasi pada kelestarian dan keberlanjutan untuk masa sekarang dan masa mendatang.

Sedangkan untuk keterlibatan masyarakat dalam sektor perkebunan, rempah-rempah sangat penting, mengingat perkebunan rempah berlokasi pada lahan-lahan milik masyarakat, yang luasannya sangat terbatas dengan jumlah kebutuhan masyarakat yang tidak terbatas, yang menyebabkan produktifitas, kuantitas, kualitas maupun kontinyuitas tidak dapat tercapai. Untuk itu perlu adanya manajemen pengelolaan rempah yang baik. Disini peran pemerintah sangat dibutuhkan. 

Di Wonosobo sendiri, tanaman rempah juga berfungsi untuk menjaga lingkungan hidup. Tanaman rempah yang sebagian besar merupakan tanaman yang dapat menjadi tumpangsari dan bisa ditanam di bawah tegakan tanaman lain, sehingga dengan banyaknya tanaman, maka bahaya erosi dapat ditahan, penyediaan oksigen pada udara bebas tercukupi dan bahaya global warming dapat terhambat. Dengan beraneka ragam tanaman, maka kondisi ekonomi akan meningkat, kelestarian ekologi terjaga dan lingkungan sosial menjadi aman, asri, sejuk udara bersih dan menyegarkan.


Editor.  Cici




No comments

Featured post

Ribuan Petasan Berbagai Ukuran Dan 7kg Mesiu Diamankan Polres Wonosobo

Ribuan Petasan Berbagai Ukuran Dan 7kg Mesiu Diamankan Polres Wonosobo - Polres Wonosobo berhasil menyita 1840 butir petasan dan 7 kg mesiu...

Ayo cek web KPU

Ayo cek web KPU
Ayo cek web KPU
Powered by Blogger.